Alutsista Made in ASEAN? Why not?
Alutsista Made in ASEAN? Why not?

(Tri Mardjoko, FTA Center Kemendag)

KTT ASEAN 6-8 September 2016,  berlalu pasca implementasi MEA 2015 yang sudah berjalan 1 tahun  lebih. Perkembangan ekonomi 10 negara anggota ASEAN sebagai dampak MEA seperti yang diharapkan,  masih samar karena tertutupi oleh  hiruk pikuk lesunya ekonomi global, terpangkasnya harga-harga produk pertanian, produk migas dan pertambangan,  dan upaya berbagai negara untuk mencoba mengatasinya, baik  secara individu, regional maupun global. KTT sebelumnya  sudah menyepakati diantaranya ASEAN vision 2025 dengan 5 pilarnya, sedangkan roadmapnya masih dalam tahap finalisasi. ASEAN harus mampu mencari kerjasama yang bersifat terobosan dalam meningkatkan integrasi  pasar regional  dengan indikator  perdagangan intra ASEAN yang berkutat pada angka sekitar 20an persen, investasi intra ASEAN,  kunjungan  wisatawan  intra ASEAN,  lalulintas tenaga profesional,  integrasi  pasar modal, pasar finansial dan indikator lainnya.  Integrasi pasar ASEAN  memiliki  acuan benchmarking perdagangan intra Uni Eropa yang 75-80 persen, atau intra NAFTA yang 70 – 75 an persen.

Pada sisi lain pemerintah Indonesia sedang dalam upaya keras untuk meningkatkan nilai  ekspornya, setelah mengalami trend ekspor yang terus mengalami penurunan,  pasca mencapai nilai  tertinggi lebih dari USD 203 milyar pada tahun 2011. Indonesia seperti berada dalam perangkap (trap), terjebak pada nilai psikologis dibawah  USD 200 milyar, indikator ini  dapat disebut “medium income country trap” , atau penulis menyebutnya  “export development trap”. Untuk bisa keluar dari “trap”  tersebut diperlukan suatu upaya terobosan ekstra kuat, tidak mungkin target nilai ekspor diatas USD 200 milyar mampu dicapai, dan kemudian terus meningkat berkelanjutan, kalau hanya  dengan upaya “as usual” atau upaya  biasa-biasa saja. Tidak mungkin pula  kalau hanya mengandalkan CPO, karet, kopi, kakao, batubara, migas, TPT, alas kaki, garment, elektronik, kayu, rotan, dan produk tradisional andalan masa lalu, karena persaingan yang sangat ketat dan harganya sedang terkoreksi secara signifikan dan memerlukan waktu lama untuk pulih kembali.

Untuk tingkat ASEAN, upaya peningkatan integrasi pasar regional,  perlu dicari platform baru, pendekatan baru yang sifatnya inklusif, win-win solution  dan adil,   bermanfaat  bagi 10 negara anggota secara proporsional  dan bisa masuk dalam kategori urgent untuk mengatasi masalah yang mendesak.

Untuk sasaran pada tingkat  nasional, bagi Indonesia,  opsi pada target peningkatan ekspor adalah menentukan target pengembangan produk dan pasar yang tepat guna, tepat sasaran dan tepat waktu, ditengah kelesuan pasar dunia. Bagaimana dengan platform pengelompokan  10 produk ekspor utama dan 10 produk potensial? Apakah masih relevan?

Dari sisi pengembangan produk ekspor unggulan nasional, seharusnya memiliki kriteria tidak sekedar unggulan berdasarkan  kontribusi masa lalu, namun  harus  berupa  visi masa depan,  yang  tentunya  mengerucut kepada kelompok barang yang memiliki nilai tinggi, hitech,  sesuai dengan kebutuhan pasar, memiliki harga  jual yang tinggi, diminati oleh para pengguna dan sudah dikenal oleh konsumen lama dan menarik untuk calon konsumen baru.    Sedangkan dari sisi pandang  ASEAN,  diperlukan  suatu platform baru yang mencakup unsur deepening and broadening collaboration yang bersifat strategic dan visioner  serta mampu mengisi kekosongan MEA 2025.  

Apabila dua segi pandang dan dua sisi keperluan nasional dan regional  ni disinergikan, maka akan mengerucut  kepada kelompok produk hasil industri strategis milik Indonesia atau negara anggota ASEAN lain  yang memenuhi sebagian besar kriteria diatas, contohnya adalah pesawat terbang berbagai tipe  produksi PT Dirgantara yang bekerja sama dengan Airbus Military Corp., dahulu Cassa Spanyol, atau sejumlah produk kereta api dan komponennya, atau  bus gandeng  produksi PT Industri Kereta Api, atau kendaraan militer, senjata ringan, amunisi  dan  hasil produksi PT Pindad  (panser Anoa, Barracuda, water canon anti huruhara), atau truk pemadam kebakaran hasil produksi satu perusahaan swasta nasional, beserta jasa pemeliharaannya. Penanganan produksinya juga harus memanfaatkan global / regional  value chain, backward dan forward linkage, serta pemasarannya harus juga tidak hanya dengan ikut  pameran, namun perlu membangun network global,  regional atau bilateral, semacam mendunianya jejaring otomotif Jepang.

Kelompok produk hitech bernilai tinggi  yang disebut diatas, sudah ada dipasar ASEAN bahkan pasar global, seperti tercantum faktanya pada lampiran,  namun belum maksimal seperti diharapkan, dan mungkin negara anggota ASEAN sebagian masih akan melirik kepada produk sejenis dari pesaing.  Kendala ini akan bisa diupayakan dengan platform kerjasama ASEAN dengan konsep “Made in ASEAN”, mengacu kepada sejarah industri pesawat Airbus, yang awalnya produksi dua atau tiga negara, yang diassembling menjadi satu produk jadi,  kemudian berkembang menjadi   :”Made in Uni Eropa”, demikian pula pesawat penumpang Boeing yang saat ini komponennya berasal dari gabungan USA, Jerman, Italia dan Jepang. Uni Eropa juga bisa menjadi acuan pada kasus industri pesawat angkut  A400M dan pesawat tempur multifungsi Eurofighter Typhoon.

Kelompok produk industri strategis milik Indonesia diatas, dapat dipromosikan menjadi “Made in ASEAN”, dibahas internal dahulu segala sesuatunya, kemudian dinegosiasikan menjadi salah satu proposal Indonesia sebagai  produk  ASEAN, untuk meningkatkan perdagangan intra ASEAN. Konsepnya, Indonesia menawarkan komponen-komponen tertentu diproduksi di negara anggota ASEAN, kemudian diasembling menjadi produk jadi dibeberapa negara anggota yang sudah mampu penguasaan teknologinya, dan dipasarkan kepada 10 negara anggota dan untuk kemudian mampu  bersaing  di pasar global. Kesepuluh negara ASEAN punya kontribusi komponen atau pemegang saham, sehingga tentunya akan mendapat manfaat ganda untuk membelinya dan menggunakannya.  Penguasaan teknologi sudah berlangsung dan terus dikembangkan, demikian pula penerimaan pasar, seperti fakta pada lampiran. Konsep alutsista made in ASEAN  sudah memiliki payung pada forum ASEAN Defence Ministry Meeting (ADMM) dengan program ASEAN Defence Industry Collaboration (ADIC).

Konsep made in ASEAN  ini tentunya tidak mudah untuk diwujudkan, akan banyak menghadapi tantangan, baik pada tingkat nasional, apalagi pada tingkat regional, bahkan tantangan dan tekanan  persaingan ditingkat global. Namun tentunya kita akan termotivasi untuk berupaya mengatasi tantangan ini. Untuk memulainya, pada tingkat nasional,  Indonesia perlu melangkah dengan menyelenggarakan  Focus Group Discussion (FGD) para stakeholder  secara berkesinambungan  yang menghadirkan pihak terkait yang mencakup wakil-wakil pelaku bisnis, pemerintah, akademisi, parlemen.  Pada tingkat regional ASEAN, perlu terus diperjuangkan dan dihangatkan juga secara berkelanjutan.

Kegiatan  edukasi, informasi, dan sosialisasi  tentang program kerjasama mendatang dalam mengisi visi  MEA 2025 (termasuk kepada para pejabat Kementerian dan Lembaga terkait) di sektor industri strategis perlu terus dilakukan. Dari sini diharapkan stake holder yang lebih luas cakupannya,  mendapatkan fakta yang benar tentang kesepakatan kerjasama ekonomi dilingkup ASEAN, tahapan implementasinya, progress pasca 2016, peluang dan tantangannya, serta bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi pemenang dimasa-masa mendatang. Untuk itu Indonesia perlu merumuskan roadmap  tindak lanjut dari  inisiatip dan program “made in  ASEAN”, yang secara regional dapat menguntungkan semua negara anggota  ASEAN, namun Indonesia sebagai motivator mendapat manfaat lebih besar dengan road map yang dapat dijadikan pedoman, dengan target dan tenggat waktunya, dan output yang terukur.

Dengan implementasi  dari  proposal ini diharapkan perdagangan intra ASEAN akan meningkat nilainya karena diprioritaskan untuk produk berharga tinggi, memiliki martabat karena hitech,  bermanfaat kepada pilar pertahanan dan keamanan ASEAN. Pada sisi nasional, Indonesia bisa meningkat nilai ekspornya secara signifikan karena menjual produk komponen utama suatu barang jadi made in ASEAN yang  bernilai tinggi dan mampu keluar  secara lebih bermartabat dari “export development trap”.

Pasar Alutsista ASEAN :

Regional ASEAN dari sisi geopolitik dan militer umumnya relatif damai, meskipun ada dinamika ketegangan bilateral misalnya ketegangan perbatasan antara RI – Malaysia, atau Malaysia – Singapura,  Thailand – Kambodia,  bajak laut di Pilipina Selatan dan Selat Malaka,  kasus Rohingya di Myanmar, dan belakangan antara China – Pilipina, Indonesia – China. Ketegangan sttempat  ini menyebabkan negara-negara di belahan Asia Tenggara termasuk royal membelanjakan anggaran militer baik personil maupun alutsista.  Pada satu sisi negara-negara anggota ASEAN ingin menciptakan regional yang damai namun disisi lain mereka banyak mengimpor alutsista dari Eropa,Amerika atau negara maju lainnya. Belum banyak industri alutsista di ASEAN, mungkin hanya Indonesia yang bisa diperhitungkan sebagaisalah satu pemasok alutsista ringan. Dengan pasar yang cukup gemuk di Asia Tenggara, sebetulnya ada peluang untuk membangun industri bersama.

undefined

Sumber : SIPRI (Stockholm International Peace Research nstitute), Katadata.co.id,

Dengan  industri bersama ASEAN, akan tercapai skala ekonomi dalam industri ini sehingga memiliki potensi maupun daya saing dipasar alutsista global.  Menurut SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), belanja Alutsista ASEAN tahun 2015 mencapai  USD 42,2 Milyar dengan pertumbuhan rata-rata 5% per tahun, Brunei USD 0,5M ( pertumbuhan 11% per tahun), Cambodia USD 0,3 M (38%), Indonesia USD 8,1M (58%), Laos  (tidak ada data), Malaysia USD 5,3M (13%), Myanmar USD 3,2M (7%), Philipina USD 3,9M (33%),  Singapura USD 10,2M (7%), Thailand USD 6,1M (10%), Vietnam USD 4,6M (45%).

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro 2013 (Tempo.co.id), menyebutkan bahwa belanja Alutsista ASEAN USD 25 miliar, suatu peningkatan yang sangat signifikan dalam 2 tahun.  Potensi  ini, perlu digarap untuk mengembangkan  industri pertahanan dalam negeri.   ASEAN  merupakan pasar yang besar bagi industri pertahanan yang meningkat  pesat 20 tahun  terakhir ini, sehingga  mulai dirasa pentingnya kolaborasi industri  alutsista di kawasan ASEAN guna terciptanya kemandirian alutsista,  perluasan pembangunan ekonomi  serta kemajuan kawasan ASEAN.  Industri pertahanan RI sendiri,  berdiri sejak 1958 dengan menasionalisasi industri pertahanan peninggalan  Inggris dan Belanda, pada tahun 1997 – 1998 sempat  ambruk karena multi krisis saat itu, dan pada tahun 2010 pemerintah   memprioritaskan pembangunan industri pertahanan hingga 2024.  USA sebagai negara Negara adikuasa  tidak  hanya kuat ekonominya namun juga harus didukung  industri pertahanan yang kuat pula dan komitmen bangsanya  untuk mewujudkannya. Peta dasar Industri alutsista 15 tahun ke depan, tercantum  dalam UU Industri Pertahanan nomor 16 tahun 2012,  terutama rancang bangun peta kekuatan industri pertahanan di kawasan dan peran Komite Kebijakan Industri Pertahanan di dalamnya.

Kapus  Komunikasi Publik Kemenhan, Brigjen TNI Hartind Asrin  menyatakan bahwa  di Sentul, Jawa Barat dikembangkan  pusat pelatihan counter terrorism  terbesar di Asia Tenggara.  Indonesia bersama negara ASEAN lainnya juga  akan  melakukan kerjasama industri pertahanan.  Forum pertemuan para menteri pertahanan ASEAN (ADMM) di Jakarta tahun 2013  menyepakati lima poin kerja sama di berbagai bidang. Secara garis besar, lanjutnya, kelima poin tersebut, diantaranya peningkatan industri pertahanan, dan program kerja tiga tahunan menteri pertahanan se-ASEAN. Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN sepakat untuk mengisi pasar industri pertahanan ASEAN untuk menjadi pasar sendiri. Kemampuan BUMN strategis Indonesia seperti PT. PAL, Dirgantara dan Pindad itu sudah cukup memadai didukung oleh industri sejenis  5  negara ASEAN yang  juga memiliki industri pertahanan yang bagus  untuk  mengisi pasar ASEAN.   Para  Menhan ASEAN  sepakat  untuk  memajukan industri pertahanan ASEAN, dan berkaloborasi dengan lima negara lainnya. Kebijakan industri pertahanan itu mendukung dan meningkatkan pertahanan dalam negeri atau industri strategis Indonesia.  Pada sisi lain,  Cina,  mendukung konsep kaloborasi industri pertahanan ASEAN, dan ingin masuk dalam ideologi pertahanan di regional ASEAN. Industri Strategis TNI Miliki Kemampuan Produksi Alutsista.  Anggota Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, setiap tahun anggaran TNI mencapai Rp 56 triliun, Rp 31 triliun dikhususkan untuk penggunaan alutsista.   Beberapa tahun yang lalu Indonesia  membeli pesawat dari Brazil, setelah bertemu ternyata yang membuat adalah orang Indonesia, yang brain drained  dari PT. Dirgantara. Mereka lulus S-3 dari Jerman dan Prancis. Tapi kita tidak bisa menampung mereka, sehingga mereka terpaksa mencari kehidupan di  pabrik  Boeing dan ke industri alutsista  di  Brazil.

Salah satu industri strategis kita, PTDI  sudah mampu  membuat  komponen yang paling kritikal, paling sulit sekalipun. Dengan kemampuan teknologi  yang sudah dikuasai, PTDI mampu memproduksi komponen  utama suatu pesawat terbang,  apalagi komponen  yang biasa atau yang lebih mudah.  katanya.Dadhik menyebutkan, selain menjual pesawat fixed wings dan airbus helicopter, PTDI juga mengekspor seluruh komponen alutsista udara produksinya ke berbagai negara, semacam  makloon komponen alutsista yang  semuanya diekspor ke luar negeri.

Dikutip dari profil perusahaan PTDI, produk utama yang dihasilkan perusahaan BUMN ini adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Perusahaan yang dipimpin oleh Budi Santoso ini juga telah menyerahkan lebih dari 400 pesawat kepada 49 operator sipil dan militer, di dalam dan luar negeri.  PT DI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengan type certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli matitim, survei, pengawas pantai, dan masih banyak jenis lainnya. PT Dirgantara Indonesia ditargetkan tak hanya sekedar merakit pesawat, tapi juga memproduksi jet tempur dalam sepuluh tahun ke depan. Target itu akan berupaya diwujudkan melalui rangkaian transfer teknologi.  PTDI misalnya saat ini menjalin kerja sama pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 jenis KFX / IFX dengan Korean Aerospace Industries. Menurut Menhan Ryamizard, sebagai negara besar,  kemampuan kedirgantaraan Indonesia tidak selaiknya terbatas hanya pada perakitan
Indonesia ke depannya akan semakin besar, meskipun sampai sekarang  baru bisa merakit, namun  kedepan tidak hanya bisa merakit, tapi mampu membuat sendiri  kapal selam maupun  pesawat tempur, kata  Ryamizard Ryacudu usai penandatanganan perjanjian kerja sama strategis PTDI - KAI di kantor Kementerian Pertahanan.

Industri pesawat terbang Eropa Airbus :

Pesawat terbang  sipil  Airbus sekarang ini  di assembling di Perancis, Jerman, Inggris, sedangkan komponen utamanya dibuat di Belgia, Perancis, Jerman, Portugal, Spanyol, Turki dan Inggris.  Pabrik komponen utama tersebut juga memiliki sub-kontraktor dibanyak negara lagi bahkan PT Dirgantara juga ikut membuat bagian dari komponen dimaksud.  Pembeli dan pengguna utama Airbus juga airline Uni Eropa dan entitas swasta maupun pemerintah.  Dengan cara ini  dicapai efisiensi produksi,  efisiensi pembelian dan penggunaan serta  dukungan finansial  yang akhirnya bermuara kepada peningkatan daya saing Airbus dibandingkan dengan produsen pesawat sejenis seperti Boeing dan Amerika Serikat.

   undefined

 undefined

 

Pada gambar diatas dapat dilihat pembagian tempat dan negara  yang memproduksi komponen utama dari pesawat Airbus. Warna kotak (negara asal) dan warna bagian dari komponen pesawat memperlihatkan pembagian produksi masing-masing negara anggota UE yang terkait dengan produksi bersama ini.  Dukungan jejaring finansial, promosi, kantor penjualan dimancanegara menyebabkan perusahaan airline seperti Lion Air dan  Sriwijaya Air, mampu membeli Airbus sampai ratusan unit dalam satu kontrak pembelian, demikian pula Garuda dan Citilink.

                         undefined

 undefined

Kasus  multi-produsen  seperti yang dilaksanakan  dalam produksi pesawat sipil  Airbus juga dilakukan oleh produsen Eurofighter Thypoon dan pesawat angkut militer A400M seperti pada gambar diatas. Kedua jenis pesawat ini memiliki payung kolaborasi made in Europe dengan pelaksana  European Defence  Authorithy (EDA).

Kasus Boeing :

Dalam persaingan yang sangat ketat di pasar pesawat global, produsen pesawat penumpang besar boleh dikatakan hanya punya pemain dominan  Boeing dan Airbus. Produsen lain dari Jepang dan China masih dalam pengembangan, sedangkan Brazil, Kanada dan Indonesia bermain di pesawat kecil sejenis ATR, CN 235, Embraer. Russia juga memiliki pesawat penumpang sipil komersial semacam Sukhoi, MC 21-200, Ilyushin, namun pasarnya belum banyak berkembang.

                  undefined

 undefined

                                                                                                                                                                             Boeing 787

Menghadapi persaingan dengan Airbus, produsen asal USA,  Boeing juga berupaya melakukan kolaborasi produksi, diantaranya dengan produsen komponen asal Italia, Jepang, United Kingdom, North America (Kanada, USA, Meksiko). Boeing merupakan kolaborasi produksi yang bersifat komersial diantara para mitra bisnis, tidak memiliki payung agreement spesifik seperti EDA.

Perkembangan  ADIC (ASEAN Defence Industy Collaboration) :

Program Kolaborasi Industri Pertahanan ASEAN (ADIC) disepakati pada  tahun 2011 dengan asumsi bahwa  program ini  akan mengembangkan kolaborasi teknologi dan industri yang sangat penting di sektor pertahanan dan keamanan. Kerjasama ini belum terwujud seperti diharapkan, belum tepat waktu, masih dalam proses  untuk membahas hambatan dan merumuskan solusi-solusi yang mungkin dapat diterima semua pihak.

Sejumlah komentar tentang ADIC :

Inisiatip dari Kolaborasi Industri Pertahanan ASEAN (ADIC) ditandatangani pada Mei 2011 di Pertemuan kelima Menteri Pertahanan di Jakarta.  Perkembangan ADIC nampaknya hanya membuat sedikit kemajuan, ditengah kekecewaan lambatnya laju perkembangan  yang telah  dicapai. Mereka menyadari adanya kebutuhan untuk mengevaluasi  peta sumberdaya yang diperlukan sehingga dapat mengidentifikasi kemungkinan hambatan-hambatan kedepan.  Urgensi telah datang bagi ASEAN untuk melihat kembali platform model lain dari kolaborasi industri pertahanan. Salah satu acuannya  adalah  kolaborasi Badan Pertahanan Eropa  atau European Defence Agency (EDA).

ADIC tidak bergigi ? :

ADIC disepakati untuk meningkatkan industri pertahanan yang prinsipnya menyadari  adanya  kesaling-tergantungan dalam   keamanan regional ASEAN dan dengan demikian mendorong proses domestikasi dan kemandirian penguasaan teknologi produksi persenjataan di ASEAN. Sepuluh negara anggota ASEAN saat ini tergantung hampir 90 persen dari produk pertahanan dan jasa yang berasal dari pemasok luar negeri, terutama Amerika Serikat dan Eropa Barat.

ADIC terutama ditujukan untuk mengurangi ketergantungan kepada pemasok global yang sangat  memboroskan devisa,  menciptakan skala ekonomi untuk produk pertahanan dan jasa yang dihasilkan oleh anggota ASEAN; menciptakan dan mengamankan tenaga kerja terampil, terutama di sektor pertahanan dan kedirgantaraan; dan meningkatkan jaringan rantai pasokan industri pertahanan dalam ASEAN. Pada akhirnya, tujuan dari ADIC adalah untuk menciptakan lingkungan industri pertahanan dan keamanan yang lebih komprehensif  beserta  proses konsolidasinya  di Asia Tenggara.

ADIC difokuskan terutama pada inisiatif untuk mempromosikan proyek-proyek pertahanan kolaboratif intra ASEAN, saling dukung kegiatan promosi masing-masing industri pertahanan dan kedirgantaraan  dalam pameran dagang, meningkatkan daya saing negara anggota dalam berbagai sektor industri  yang dapat memiliki efek multiplier pada produksi persenjataan lokal, dan secara umum membantu perkembangan dan pertumbuhan industri pertahanan ASEAN. Kolaborasi ADIC meliputi pendidikan dan pelatihan di sektor industri pertahanan, kemitraan regional, usaha patungan dan co-produksi, kerjasama penelitian dan pengembangan, dan promosi bersama peralatan militer dalam penjualan dan pemasaran.

Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir sejak ADIC dibentuk, hanya ada sedikit kemajuan sejauh ini dalam mempromosikan kerjasama persenjataan regional. Hal ini sebagian disebabkan oleh kurangnya upaya saling isi dan saling  melengkapi antara industri senjata ASEAN. Beberapa negara, seperti Singapura, memiliki cukup industri pertahanan yang canggih, namun sebagian besar negara ASEAN lainnya memiliki kapasitas untuk memproduksi sedikit tetapi relatif  sebagai pendatang  baru dan masih  berada  pada tahapan persenjataan dasar. Selain itu, sebagian besar pemerintah ASEAN dan militer tetap curiga tentang kemungkinan  kerugian dan risiko  yang diakibatkan  oleh  kesepakatan berbagi teknologi  dan  melonggarkan kontrol yang lebih proteksionis  bagi industri pertahanan nasional mereka.

Mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, negara-negara anggota memutuskan untuk mempertahankan ADIC lebih bersifat fleksibel, tidak mengikat, dan sukarela. Akibatnya, ADIC pada dasarnya adalah sebuah entitas konsultatif, kurang kekuatan penegakan kesepakatan, dan saat ini bahkan tidak didanai oleh Sekretariat ASEAN.

Merangkul model Eropa :

Jalan kolaborasi dan kemitraan di sektor industri pertahanan telah disiapkan, tujuan keseluruhan dari ADIC adalah mengurangi hambatan pada isu-isu implementasi, namun kendala yang paling jelas adalah kurangnya kemauan negara-negara anggota untuk sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan kolaborasi industri. Tantangannya adalah mengembangkan solusi yang efektif untuk ADIC dalam mengelola lingkungan persaingan internal ASEAN, keamanan intra-regional dan kepentingan sosio-ekonomi, termasuk skeptisisme dan kurangnya rasa saling percaya.

Salah satu model kolaborasi yang mungkin dapat dijadikan rujukan ASEAN adalah kasus di Eropa. Uni Eropa (UE) telah mengupayakan selama lebih dari setengah abad untuk membuat kolaborasi industri pertahanan dan keamanan yang dikemas dalam  payung kerjasama pasar tunggal Eropa. UE   telah memiliki kolaborasi industri persenjataan  seperti industri pesawat angkut A400M dan pesawat tempur multifungsi Eurofighter Typhoon. UE percaya bahwa kolaborasi ini mendukung berkembangnya industri pertahanan regional, merasionalisasi dan mengkonsolidasikan efektivitas yang lebih besar dan efisiensi biaya, dan pada akhirnya mampu menciptakan pertahanan Eropa berbasis industri alutsista yang lebih kompetitif. Kolaborasi ini tidak hanya akan meningkatkan perdagangan intra-Eropa termasuk perdagangan alutsista, tetapi juga mempromosikan penjualan senjata made in Eropa ke pasar diluar Eropa.

Untuk tujuan ini, Uni Eropa telah membentuk sejumlah lembaga dan organisasi - seperti Badan Pertahanan Eropa / European Defence Agency (EDA) - untuk mempromosikan kerjasama industri pertahanan intra-Eropa, co-produksi, dan saling akuisisi bersama. Yang pasti, gerakan menuju pasar pertahanan tunggal Eropa lebih lambat dari yang diharapkan, dan kebijakan proteksionisme industri senjata nasional masing-masing masih  merupakan hambatan yang tetap tinggi, bahkan setelah 50 tahun diupayakan secara berkelanjutan. Namun demikian, dalam jangka panjang Uni Eropa telah membuat kemajuan yang signifikan dalam kolaborasi industri alutsista ini. Kolaborasi industri strategis Eropa ditingkat sipil  swasta juga dilaksanakan misalnya industri pesawat terbang dan hekopter  Airbus yang tadinya dimiliki satu dua negara sudah menjadi industri bersama Uni Eropa.

Harapan kedepan ADIC :

Meski menghadapi jalan terjal ke depan, ADIC  tetap sangat menjanjikan, meskipun dibutuhkan kepemimpinan ASEAN yang berkomitmen kuat pada tingkat pemerintah, industri strategis, dan para peneliti universitas. Negara-negara anggota ASEAN harus menghargai peran potensial dan pentingnya peran ADIC dalam mempromosikan sektor teknologi canggih dalam ASEAN. Oleh karena itu mereka harus mempertimbangkan untuk mengembangkan sebuah platform khusus seperti EDA yang digunakan untuk merealisasikan  inisiatip ADIC menjadi kenyataan.

Lembaga semacam EDA  dapat dibentuk di ASEAN dan lembaga ini dapat menanggung sumberdaya penelitian bersama dan pendidikan dalam isu-isu industri pertahanan dan penguasaan teknologi yang diperlukan. Hibah dan beasiswa juga bisa disediakan  melalui ADIC untuk proyek-proyek penelitian yang sifatnya kolaboratif ASEAN, dengan melihat ke arah komersialisasi proyek ini kedepannya. Fokus kolaborasi harus diberikan untuk proyek-proyek percontohan berdasarkan  program kegiatan produksi bersama dalam peralatan dan jasa alutsista, berkonsentrasi pada awalnya terhadap  isu-isu yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan, bantuan bencana, dan keamanan cyber.

Secara keseluruhan, ADIC memiliki potensi untuk merubah posisi  negara anggota ASEAN,  dari ketergantungan impor alutsista, ke arah industri dasar yang lebih terpadu dan penguatan industri hilir   pertahanan dan penguasaan teknologi. Dalam beberapa tahun kedepan, ADIC akan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan industri pertahanan yang lebih besar dan solidaritas keamanan dan kemakmuran ekonomi  negara-negara anggota ASEAN.

Lampiran :

Produk Indonesia yang siap menjadi Made in ASEAN dan acuan dari produk Made in Eropa : Airbus dan produk Made in Mancanegara :  Boeing.

 

                  undefined undefined

                                                undefined

Pengguna Panser Anoa buatan Pindad : 

Indonesia: 236 unit varian 6x6 dan 10 unit varian 4x4.

Malaysia: 13 unit kabar terbaru menyebut pembelian hingga 23 unit  lalu 32 unit  yang akan

                digunakan Di Lebanon.

Brunei: 13 unit

Oman: 200 unit.

Nepal: dilaporkan menunjukan ketertarikan untuk membeli 28 varian 6x6 juga untuk

             misi perdamaian PBB.

 

Produk sejenis Panser  Anoa dan negara produsen :

 Arab Saudi: Al-Fahd

 Tiongkok: WZ551

 Perancis:VAB

 Turki: FNSS Pars

 Yugoslavia: BOV M86

 

Pengguna CN-235-100M :

Bangladesh Army placed order for two CN-235-300 for tactical and logistical transport

Botswana Defence Force Air Wing operates two CN-235 aircraft.

Royal Brunei Air Force operates one CN-235.

The Military of Burkina Faso operates one CN-235.[20]

Cameroon Air Force ordered one CN-235 in June 2012. Delivery took place in July 2013.

The Chilean Army operates three CN-235.

The Colombian Air Force and the Colombian National Armada operate a total of five CN-235 aircraft.

The Ecuadorian Air Forceand Ecuadorian Navy operate four CN-235s.

The French Air Force operates 27 aircraft.

The Gabonese Air Force operates one CN-235.

The Indonesian Air Force operates the CN-235 and Indonesian Navy operates the CN235MPA.[26] A total of ten aircraft are in service as of August 2015.

The Irish Air Corps operates 2 CN235-100 employed as maritime patrol aircraft)

The Royal Jordanian Air Force leases two aircraft from the Turkish Air Force.

The Royal Malaysian Air Force operates eight aircraft.

The Mexican Navy operates eight CN235-300MPA. The first two were delivered in September 2010.

The Moroccan Air Force operates five aircraft.

The Pakistan Air Force operates four CN235-220 aircraft.

The Papua New Guinea Defence Force operate one aircraft.

The Republic of Korea Air Force operates 20 airframes; 12 built by CASA in Spain, 8 by IPTN in Indonesia

The Korean Coast Guard operates four aircraft.

The Senegalese Air Force operates one aircraft.

The Spanish Air Force operates eighteen aircraft.

The Spanish Civil Guard operates 5 aircraft for surveillance duties.

The Royal Thai Air Force operates three aircraft.

The Turkish Army, Turkish Air Forceand Turkish Navy operate 59 aircraft.

The Military of the United Arab Emirates operates six aircraft.

US Coast Guard HC-144A Ocean Sentry

The United States Air Force operates thirteen aircraft.

The United States Coast Guard operates eighteen aircraft – see EADS CASA HC-144 Ocean Sentry.

Austrian Air Force – Former operator.

Bophuthatswana Air Force (1, incorporated into South African Air Force)

Panama National Guard (Until 1995)

South African Air Force (From Bophuthatswana Air Force – retired July 2012)

Yemen Air Force (1x CN-235-300) The only aircraft of the type, registration number 2211, factory number 168988, serial number 188, was destroyed in a Saudi airstrike on March 25, 2015.

A CASA CN-235-300 MPA of the Spanish Maritime Safety Agency

Royal Oman Police (2 x CN-235-M100)

Sociedad de Salvamento y Seguridad Marítima (Spanish Maritime Safety Agency) (3 X CN-235 MPA)

Mexican Federal Police (2x CN235)[42]

Royal Thai Police (1 x CN235-300)

 

Civil Operators

Inter Austral airlines, a subsidiary of Austral Líneas Aéreas, was later integrated into Aerolíneas Argentinas, one ex-Binter.

Merpati Nusantara Airlines once operated 15

Pelita Air Service had two.

Tiko Air had one (C012)

Air Namibia operated one from 2001–2006

Binter Canarias and Binter Mediterraneo, both then subsidiaries of Iberia, operated four and five respectively from 1989 to 1997

 South Africa

Safair has two CN-235s

 United States

Flight International and Flight Turbo AC with one each

L-3 Communication Systems acquired two aircraft.

Presidential Airways, Operates one former Binter Canarias.

Air Venezuela had 2 (1999–2001).

 

18 Unit Bus Gandeng Inobus Produksi PT. Industri Kereta Api (INKA) Dengan Karoseri

                        undefined undefined

 

Laksana.  PT Industri Kereta Api (INKA) bersiap mengikuti tender pengadaan 40 rangkaian kereta listrik (KRL) yang diselenggarakan operator kereta Ibu Kota Manila, Filipina.

Sumber:

- Tempo.co.id

- Katadata.co.id

- Kompasiana.com

- SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute),

- Google

- PTDI

- PINDAD

- INKA

 

 

------- oo000oo --------

Berita
Sebagaimana Saudara ketahui, para Menteri Ekonomi negara-negara anggota ASEAN pada pertemuan ASEAN Economic Minister ke-48, dan pertemuan Dewan ASEAN Free Trade Area ke-30 tanggal 30 Agustus 2016 di K…
Bangkok, KompasOtomotif - Penjualan mobil baru di enam negara utama di Asia Tenggara meningkat 4 persen, atau 234.193 unit pada Juli 2016 dibandingkan bulan sama tahun sebelumhya. Pencapaian ini menan…
VIENTIANE – Enam belas Menteri Ekonomi (10 negara ASEAN dan 6 negara mitra) yang tergabung dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencapai pe…
MALANG --  Sebanyak 364 mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima sertifikat profesi elektronika dari Lembaga Sertifikasi Profesi Elek…
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Masyarakat Asean menjadi kesempatan yang menguntungkan bagi pemerintah pusat juga pemerintah daerah. Sebab, akses membuka hubungan luar negeri terbuka luas dan it…
Jakarta - Untuk menciptakan kemudahan dan kenyamanan berinvestasi, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) bersama dengan Dinas Penanaman Modal dan PTSP Pemprov DKI Jakarta, secara resmi membuk…
(Tri Mardjoko, FTA Center Kemendag) KTT ASEAN 6-8 September 2016,  berlalu pasca implementasi MEA 2015 yang sudah berjalan 1 tahun  lebih. Perkembangan ekonomi 10 negara anggota ASEAN sebagai dampak M…
Asra Virgianita, Ph,D Koran Sindo Senin, 3 April 2017 - 09:20 WIBKetua Program Pascasarjana Internasional FISIP UI, Wakil Direktur Centre for International Relations Studies (CIReS) FISIP UITIDAK te…
Andre Notohamijoyo Delegasi RI untuk Perundingan Bidang Pertanian dan Kehutanan ASEAN Tahun ini, Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) genap berusia 50 tahun. Pada usianya yang setengah aba…